BLOG'e AnakMbatu

BLOG'e AnakMbatu Arek Mbatu rek...

     Sudah bukan rahasia lagi jika makan banyak sayur dan buah adalah hal yang sangat baik. Yang belum banyak orang tahu adalah bagaimana sebaiknya mengkonsumsi buah yang baik, konsumsi sekalian dengan kulitnya atau tanpa kulit.

       Kulit buah mungkin mengandung kandungan nutrisi yang sangat baik untuk kesehatan. Jika kulit buah dikupas, maka sama saja dengan kita membuang zat gizi yang berharga. Namun, pernahkah anda juga mendengar bahwa mengkonsumsi buah sebaiknya kulit buah harus dikupas, karena di kulit buah terkandung kotoran dan pestisida yang berbahaya bagi kesehatan.

    Di artikel ini kita akan bahas secara ringkas mengenai sebaiknya makan buah dengan dikupas atau tanpa dikupas.

   Kulit buah adalah bagian terluar dari buah yang bertugas untuk menjaga buah dari pengaruh negatif dari faktor lingkungan (suhu, kelembapan, cuaca), serangga, bakteri dan hama buah. Pada umumnya kulit buah merupakan bagian terluar dari buah (exocarp), namun ada buah seperti buah kelapa yang memiliki sabut kelapa (mesocarp), dan tempurung kelapa yang sangat keras (endocarp)1.



  Kulit buah merupakan mekanisme pertahanan buah dari faktor eksternal untuk menjaga agar buah dan biji tetap dalam kondisi yang baik. Biji adalah salah satu alat penting bagi tanaman untuk berkembang biak.

Perbandingan zat gizi antara buah dengan kulit dan tanpa kulit
     Buah terdiri dari buah yang kulitnya bisa dimakan (edible) seperti apel dan buah yang kulitnya tidak bisa dimakan (unedible) seperti salak. Sebagai contoh, kita ambil kandungan gizi buah apel segar yang dikupas kulitnya dan yang tanpa dikupas kulitnya dengan menggunakan data dari Departemen Pertanian Amerika Serikat. 
Perbedaan nutrisi apel dengan kulitnya dan apel dikupas kulitnya
Perbandingan nilai gizi buah apel segar dengan kulit dan tanpa kulit.
     Dari gambar di atas, sudah sangat jelas bahwa buah apel dengan kulit lebih bergizi dibandingkan dengan buah apel tanpa kulit. Buah apel dengan kulit memiliki kadar serat sekitar 2x, zat besi 2x, vitamin E 4x, dan vitamin K 4x lebih banyak dibandingkan dengan buah apel yang dikupas kulitnya. Perbedaan zat gizi yang mencolok tersebut terjadi karena adanya kulit buah apel yang ternyata mengandung nutrisi yang tinggi.

     Selain itu, kulit buah banyak mengandung anti oksidan yang sangat berguna untuk sistem pertahanan tubuh dan menurunkan risiko beberapa penyakit. Simpelnya, antioksidan akan bekerja melawan radikal bebas, yang mana radikal bebas merupakan senyawa berbahaya penyebab penyakit. Antioksidan sudah terbukti sangat ampuh untuk menurunkan risiko penyakit, seperti penyakit jantung2,3.

     Penelitian menemukan fakta bahwa kadar antioksidan lebih tinggi hingga 328 kali lipat pada kulit buah, dibandingkan dengan bagian inti atau daging buahnya 4,5.

Mengkonsumsi buah bersamaan dengan kulitnya dapat meningkatkan konsumsi zat gizi, khususnya serat, vitamin, dan mineral. Selain itu terdapat antioksidan yang berguna untuk menurunkan risiko penyakit jantung dan memperkuat sistem kekebalan tubuh.


Kulit buah bisa jadi mengandung pestisida
     Pestisida adalah zat kimia yang digunakan untuk membunuh hama seperti serangga, binatang pengerat, jamur, dan gulma6. Penggunaan pestida sudah diatur secara internasional oleh FAO maupun secara regional seperti EPA (U.S. Environmental Protection Agency) untuk amerika, dan kementerian pertanian untuk Indonesia. Banyak penelitian telah menyimpulkan jika pestisida yang digunakan untuk merawat tanaman, memiliki kemungkinan besar untuk terserap kedalam mayoritas buah dan sayur yang biasa kita konsumsi sehari-hari7,8,9. Zat pestisida tersebut jika dikonsumsi secara terus menerus dan dalam jumlah besar bisa menimbulkan penyakit, seperti kanker, asma, dan diabetes10.



     Tahun 2018 EWG (The Environmental Working Group), sebuah organisasi pemerhati lingkungan di Amerika, mengeluarkan daftar buah-buahan yang harus dihindari dan dianjurkan berdasarkan jumlah, macam dan tingkat pestisida yang terkandung. Strawberry, bayam, apel, pear, anggur, dan kentang tergolong sebagai bahan makanan yang wajib dihindari, sedangkan alpukat, kol, pepaya, mangga, dan brokoli tergolong aman11.
Buah-buahan yang tinggi dan rendah pestisida
Courtesy : www.choosethenaturalpath.com 
Walaupun terkesan menakutkan, tetapi jangan berhenti mengkonsumsi buah dan sayur tersebut. Banyak penelitian mengatakan, walaupun banyak buah dan sayur yang mengandung pestisida, namun kadarnya masih dalam batas aman dan belum dikategorikan sebagai penyebab timbulnya masalah yang serius.

Mengurangi pestisida
     Cara paling ampuh untuk mengurangi pestisida adalah mengganti pestisida yang berbahaya dengan pestisida yang aman dan ramah lingkungan agar buah dan sayur bebas pestisida berbahaya. Sebagai konsumen, hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi paparan pestisida secara mudah adalah dengan mencuci dan mengupas kulit buah tersebut.

     Mencuci buah adalah cara yang baik untuk mengurangi zat pestisida yang mungkin tertinggal di buah dan sayur. Sebuah jurnal dari Elsevier menemukan bahwa metode blanching merupakan metode yang paling baik dalam mengurangi kadar pestisida di buah, diikuti dengan metode mengupas kulit dan mencuci12. Penelitian terbaru menemukan, mencuci buah dengan baking soda sangat efektif dalam menurunkan zat pestisida yang menempel di kulit buah, namun cara terbaik tetaplah dengan mengupas kulit buah itu sendiri13. Mengupas kulit buah merupakan cara terbaik da termudah dalam mengurangi kadar pestisida di buah, namun zat gizi yang terkandung di kulit secara otomatis juga ikut terbuang.

Buah dan sayur organik
     Jika anda merasa sayang untuk membuang kulit dari buah yang anda makan atau anda tetap bersikeras ingin makan buah bersamaan dengan kulitnya, solusi yang paling tepat adalah membeli buah dan sayuran organik. Makanan organik adalah hasil produksi dari sistem pertanian dan peternakan yang menghindari penggunaan pupuk buatan, pestisida, zat pengatur pertumbuhan, dan bahan tambahan pakan. Selain itu, juga menghindari metode iradiasi pangan dan rekayasa genetik14.

     Buah dan sayur yang menggunakan sistem organik, sudah pasti tidak menggunakan pestisida buatan sehingga buah dan sayur dan dihasilkan dapat dipastikan bebas pestisida. Mengkonsumsi bahan makanan organik merupakan solusi jitu bagi anda yang ingin mendapat manfaat dari makan buah dan sayur tanpa harus membuang kulitnya. Namun wajib diingat, buah-buahan tertentu seperti nanas, salak, dan kelapa memang harus dikupas karena kulitnya tidak bisa dikonsumsi. Bisa-bisa gigi anda rontok jika tetap bersikeras makan buah kelapa tanpa dikupas.
Organik label


Stay living healthy!

REFERENCES:
  1. https://nayundasemli.wordpress.com/2013/12/03/struktur-buah-dan-biji/
  2. https://academic.oup.com/ajcn/article/101/6/1135/4564554
  3. http://www.eurekaselect.com/88381/article
  4. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1002/jsfa.2825
  5. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0271531703001842
  6. www.who.int/topics/pesticides/en/
  7. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/B9781855739567500048
  8. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3907644/
  9. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0956713511000259
  10. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S004896971631926X
  11. https://www.ewg.org/foodnews/full-list.php
  12. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S027869150900492X?via%3Dihub
  13. https://pubs.acs.org/doi/ipdf/10.1021/acs.jafc.7b03118
  14. http://www.defra.gov.uk/

Courtesy : https://deskgram.org

Buah merupakan sumber vitamin dan mineral yang sangat penting untuk kesehatan. Di Indonesia, sangat dianjurkan mengkonsumsi 2-3 porsi buah-buahan dalam satu hari sesuai dengan pedoman gizi seimbang. Di inggris, dianjurkan untuk mengkonsumsi porsi yang lebih banyak yaitu 5 A Day, yang artinya 5 porsi buah dalam sehari. WHO pun merekomendasikan untuk mengkonsumsi 400 gram buah/hari. 1 porsi buah bisa diartikan sekitar 80 gram buah, atau setara dengan 1 buah apel atau jeruk ukuran sedang.

Jujur saja, dalam kondisi tertentu, misalnya saat lapar, ngiler melihat buah segar nan menggoda, kita akan tergoda untuk langsung memakan buah tersebut tanpa dicuci. Apakah ini aman? Apakah ini kebiasaan yang baik? Hmmm…


Bagi penikmat buah, mengkonsumsi buah beserta dengan kulit merupakan hal yang umum. Akan tetapi, jika makan buah langsung dari supermarket atau pasar tanpa adanya proses pembersihan atau pencucian secara benar, itu merupakan hal yang tidak baik dan berisiko mengakibatkan efek buruk bagi kesehatan.


Alasan yang paling utama adalah mengenai masalah hygiene/kebersihan. Perjalanan buah dari kebun sampai tiba di supermarket atau pasar tempat biasanya berbelanja merupakan perjalanan yang panjang, apalagi jika buah tersebut diimpor dari negara lain. Selama perjalanan, bisa saja buah tersebut mengalami proses kontaminasi atau penempelan zat-zat berbahaya bagi kesehatan. Pegawai yang tidak mengerti kebersihan, batuk atau bersin juga ditambah lagi mengupil sembarangan bisa saja menyentuh buah-buah yang akan dibeli oleh konsumen. Tidak menutup kemunginan buah tersebut jatuh ke lantai yang kotor, terkontaminasi oli, minyak, bahan bakar saat perjalanan, juga siapa yang tahu apakah buah-buah itu bertemu dengan kecoak dan tikus selama perjalanan. Intinya tidak semua pegawai dan perusahaan mengerti dan menerapkan HACCP (Analisis bahaya dan pengendaliannya) dan GDP (Cara distribusi yang baik).


Buah apapun itu (organik dan anorganik) yang dibeli di supermarket atau pasar wajib dicuci yang tujuan utamanya adalah menghilangkan kotoran, tanah, bakteri, dan virus yang mungkin menempel pada kulit buah. Pencucian yang baik bisa menggunakan sabun khusus food grade ataupun menggunakan cuka. Menurut beberapa penelitian, mencuci buah dengan perbandingan air: cuka = 2:1 secara signifikan dapat menurunkan jumlah bakteri yang terdapat pada buah sekitar 98%, namun akan berpegaruh pada tekstur dan rasa buah tersebut. Untuk penggunaan sabun khusus food grade, FDA atau BPOM Amerika mengatakan bahwa belum ada penelitian yang menjamin bahwa sisa sabun yang mungkin menempel di buah tersebut aman dikonsumsi.


Berdasarkan fakta diatas, sangat disarankan untuk mengupas kulit buah (dicuci ataupun tidak dicuci) untuk menghilangkan potensi kontaminasi. Mengupas kulit buah dapat meminimalisir sisa pestisida, bakteri, jamur, virus, juga membuang wax pengawet atau yang sering kita sebut zat lilin pada buah. Jika kondisi memungkinkan, cucilah kulit buah sebelum dikupas karena proses mencuci dan perendaman buah dengan air biasa dapat menurunkan jumlah bakteri hingga 98%. Bersyukurlah jika tinggal di UK atau US, karena air PDAM di sana menggunakan air layak konsumsi (tap water) yang tercampur dengan klorin (Cl) yang ampuh membunuh bakteri. Klorin yang terkandung dalam air di UK sangatlah aman karena kadarnya hanya 0.5 mg/l jika dibandingkan dengan batas WHO yaitu sekitar 5 mg/l.


Tapi kalo mengupas kulit buah bukankah akan menghilangkan vitamin, mineral, dan serat yang terdapat di kulitnya? Intip ulasan kami mengenai kulit buah dan zat gizinya di artikel berikutnya. Stay living healthy!




















About this blog

Blog ini merupakan curahan jiwa seorang anak yang sedang bertualang mencari arti kehidupan SEJATI.

My Favorite

  • Melihat Alam Ciptaan Allah
  • Play many games
  • Jalan-jalan
  • Tidur
  • Watch Onepiece and Naruto
Ocean Blue Flame
Powered by Blogger.